BBM VS
Erwin P Gultom
Mahasiswa Ilmu Komunikasi, FISIP Universitas Riau (Unri)
Aktif Sebagai Wartawan Tabloid Tekad Ilmu Komunikasi
Alamat: Jalan Emas No 21, Perum Mutiara Permai, Pekanbaru, Riau 28293
No tel: 081370901413
Ini bukan momentum hari anak nasional atau saya sebagai pemikir sosial anak-anak bangsa. Saya juga seorang pemerhati, atau ahli sosial namun hanya sebagai mahluk yang belum menelurkan apa-apa. Namun saya mencoba membuka tabir pemikiran melalui penerawangan terhadap nasib anak-anak di sebuah
Sesekali ia pengamen ini berkata ‘’minta om,’’ setelah ia menyanyikan lagu yang sebenarnya hanya memekakkan telinga sebab tidak ada satupun not yang benar dari lagu yang dinyanyikan itu. Saat seseorang didepanku memberi selembar uang ribuan, pengamen itu dengan polos mengatakan ‘’terima kasih, om!’’ dan kepadaku ia berkata ‘’pelit’’. Mendengar itu aku mau tertawa. Memang uang dalam kantongku pas-pasan karena keuangan yang mulai menipis pada akhir bulan. Aku juga lagi menunggu suntikan dana dari orang tuaku di kampung.
Setiap mobil yang kutumpangi saat berhenti di beberapa lampu merah selalu disuguhkan pemandangan ini. Bukan hanya dua orang anak-anak, bahkan sesekali ada lebih dari 10 orang anak-anak yang masih di bawah umur bertengger. Tidak hanya mengamen, tetapi juga menjadi peminta-minta (pengemis), tukang loper koran, tukang bersih kaca mobil dan lain sebagainya. Tujuannya hanya satu, uang.
Pernah saya adakan melakukan survei terhadap beberapa anak-anak jalanan ini. Bermodal makanan ringan dan minuman beberapa anak mudah akrab dan mau bercerita sejenak tentang kehidupannya. Sambil mencari tempat yang nyaman untuk membongkar apa yang terjadi dengan orang-orang yang tidak beruntung ini, beberapa ide pertanyaan pun kami persiapkan.
Pada kenyataan, beberapa anak ini memang orang yang termajinalkan karena hidup dibawah garis kemiskinan. Bagaimana tidak, rumah ngontrak, ayah dan ibunya bekerja menjadi pemulung karena tidak punya pendidikan dan keterampilan (soft scill), yang dipaksa bekerja dari pagi hingga malam hanya untuk mendapatkan sesuap nasi per harinya. Kemudian besoknya kembali bekerja dan hingga keringatnya mungkin menganak sungai karena suhu Pekanbaru yang seperti api neraka.
Oleh karenanya, beberapa anak ini berinisiatif untuk membantu ekonomi keluarga dan tidak memilih sekolah. Lagian menurutnya biaya untuk sekolah yang besar telah berhasil mencekik leher bapaknya dan ibunya. Apakah dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) dan bantuan dana pemerintah lainnya untuk orang-orang yang butuh uluran tangan ini hanya isapan jempol semata?
KPAI, apaan sih?
Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) adalah lembaga independen Indonesia yang dibentuk berdasarkan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak dalam rangka meningkatkan efektifitas penyelenggaraan perlindungan anak. Keputusan Presiden Nomor 36/1990, 77/2003 dan 95/M/2004 merupakan dasar hukum pembentukan lembaga ini.
Disebutkan dalam pasal 3 Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mempunyai tugas, Pertama melakukan sosialisasi seluruh ketentuan peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan perlindungan anak, mengumpulkan data dan informasi, menerima pengaduan masyarakat, melakukan penelaahan, pemantauan, evaluasi, dan pengawasan terhadap penyelenggaraan perlindungan anak. Kedua memberikan laporan, saran, masukan, dan pertimbangan kepada Presiden dalam rangka perlindungan anak.
Saya bingung dengan KPAI yang hingga sekarang ko ini masih tetap eksis. Bagi saya, KPAI itu antara ada dan tiada. Ada, karena plank namanya masih bediri kokoh di depan kantor gubernur Riau yang baru itu (Gedung Sembilan lantai yang masih dalam tahap penyelesaian). Dan menurut saya tidak ada karena KPAI hingga sekarang belum pernah bertengger di media manapun. Ya sekadar memberitahu tentang apa yang terjadi dengan KPAI. Apakah sudah dibawa arus sungai Siak atau KPAInya bunuh diri dengan loncat dari jembatan Sultan Latifah Siak yang sudah menelan dana miliyaran rupiah itu?
Seharusnya KPAI yang nota benenya mendapatkan pemasukan dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) memperhatikan nasib para anak-anak yang tidak tahu kotornya politik, yang tidak tahu kalau sebentar lagi leher bapaknya akan semakin tercekik karena kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM). Tidak adanya kinerja pasti dari KPAI ini membuat masyarakat kesal.
Apa Yang Kita Makan Hari Ini?
Sesekali saya tertawa ingat saat salah satu teman saya memberi sebuah teka-teki. ’’Apa bedanya orang kaya dengan orang miskin?’’ujarnya kepadaku. Pertama, yang kupikirkan hanyalah masalah uang.’’Yang pasti orang kaya punya banyak uang, sedangkan orang miskin tidak punya,’’ balasku menjawab teka-teki itu. ’’Kalau itu, anak yang baru bisa ngomong juga tahu,’’ucapnya meledek.
’’Nyerah deh,’’ucapku. ’’Kalau orang miskin selalu berkata, apa yang akan kita makan hari ini (ubikah, nasikah atau tidak makan apa-apa). Nah, kalau orang kaya berkata, siapa yang akan kita makan hari ini,’’ucapnya sambil tertawa.
Jawaban apa yang akan kita makan hari ini pasti akan mencuak ke telinga kita saat kenaikan BBM ini. Harga minyak dunia yang mencapai 150 USD memaksa pemerintah Indonesia naikkan harga BBM. Menurut data yang akan dikeluarkan oleh Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati, kenaikan akan mencapai level 28,7 %. Hal ini akan membuat harga Preminum mencapai 6000 Rupiah per liternya, Solar dari 4.300 menjadi 5.500 per liternya, sedangkan Minyak Tanah akan mencapai harga 2.500 per liternya.
Lanjutnya, Sri Mulyani mengatakan bahwa kenaikan akan diumumkan setelah Menteri Perekonomian dan Keseahteraan Masyarkat laporkan kesiapan program Bantuan Tunai Langsung (BLT) kepada Presiden RI, Susilo Bambang Yudhoyono tanggal 23 Mei kemarin. Rencananya BLT yang totalnya mencapai 14 Triliun akan diberikan kepada 19,1 juta rumah tangga (RT) yang tersebar di seluruh pulau di NKRI. Jumlah yang diberikan per rumah tangganya mencapai 100 Ribu Rupiah per rumah tangga selama satu tahun. Kelalaian yang sering terjadi dalam pemerintahan adalah seringnya oknum memperoleh yang bukan haknya. Orang yang seharusnya dapat malah tak tersebut. Apakah itu yang akan terjadi atau hanya diatas kertas saja?
Namun menurut salah satu praksi dari Partai Keadilan Sejahtera (PKS) yang duduk di DPRD Pekanbaru, BLT yang menjadi solusi untuk membantu masyrakat miskin ini ternyata tidak efektif. Hal itu diungkapkan kepada sebuah media lokal Pekanbaru, karena akan membuat masyarakat semakin malas. Hal itu juga diakibatkan kekhwatiran akan adanya penyalahgunaan data yang berasal dari Badan Pusat Statistik yang tahu persis berapa jumlah masyarakat miskin Indonesia.
Lebih lanjut, wakil rakyat yang duduk di kancah pemerintahan menegaskan bahwa seharusnya pemerintah pusat melakukan perbaikan ekonomi masyarakat dengan membuka lapangan kerja dan memberikan lahan untuk masyrakat kecil bisa bekerja. Namun hal itu belum terlaksana hingga sekarang.
Siapkah masyarakat menerima kenaikan itu? 28,7 % bukanlah angka yang kecil bagi masyarakat menengah kebawah. Sebenarnya jika hanya BBM yang naik, masyarakat tidak akan gemetaran, karena tidak semua orang mempunyai kenderaan bermotor. Namun meroketnya harga kebutuhan rumah tangga lainnya buat warga menjadi pucat pasi. Ketakutan pun semakin menjadi-jadi karena pengumuman kenaikan Upah Minimum Regional (UMR) hingga saat ini belum tersiar.
Jika masyarakat miskin nantinya setelah kenaikan BBM hanya mampu mengumpulkan uang dalam sehari hanya sesuap nasi, bangaimana dengan nasib anak-anak mereka? Mungkinkan mereka masih bisa mengecap bangku sekolah atau nanti mereka akan turun ke jalan bemodalkan suara sumbang demi mendapat uang tambahan? Pemerintah harus tanggap masalah ini. Saya bukan hanya bercerita apa yang terjadi di Pekanbaru saja, tetapi hal ini pasti banyak terjadi di beberapa wilayah di Indonesia.
Riau memang memiliki segudang kekayaan dengan segudang permasalahan. Antara satu kasus dengan kasus lainnya saling tumpang tindih. Ilegal Loging yang masih dalam wacana penyelesaian sering ditambah dengan beberapa pembakaran lahan seperti beberapa waktu lalu. Seharusnya kita tidak mau diejek sebagai pengekpor asap terbesar versi Malasyia karena kita sudah terkenal sebagai pengekspor Tenaga Kerja. Wilayah kaya memang tidak menjanjikan sebuah keberhasilan dan majunya pendidikan tanpa dibarengi oleh Sumber Daya Manusia (SDM) yang mau mengembangkan sayap menindas kebodohan. Selesai.

1 komentar:
iya.....
duh emang semua pada susah..
bbbm naek.....
ya makin susah...
fuh...
tapi kta mesti bangkit guys..
dont give up...
merdeka indonesia
Posting Komentar